Merasakan Jatuh

Posted by Iyank on January 20, 2010 in Tentang Cinta dan Detaknya |

Dear Novan Adrian,,

Laki – laki yang mengajarkanku bahwa mimpi adalah perahu untuk melewati lautan waktu

Ketika aku mulai menulis ribuan kata untukmu, maka yakinilah bahwa ketika itu pula aku merasakan sakit yang tak tertahankan di kepalaku atas deraan beban menyangkut semua impian

Karena kuyakini dengan tulisan, akan terdeskripsi lebih nyata tentang apa yang aku jelang

Terima kasih telah menghidupi hariku dengan semangat seperti yang biasa aku lakukan untukmu ketika kamu jatuh. Terima kasih untuk sabar menghadapiku seperti karang yang bertubi – tubi di desak ombak tanpa menunjukkan sedikitpun raut kekecewaan. Terima kasih telah mencintaiku begitu luas seperti radius terbang sebuah elang tanpa batas, begitu bebas namun begitu sederhana dalam retas.

Kamu begitu luar biasa, dan ini bukan tentang kamu..ini tentang aku..yang mulai begitu tidak percaya diri untuk dicintai..

Aku lelah sayang, perasaan luar biasa menghancurkan bukan hanya kepala tapi juga jiwa..

Perasaan yang dimiliki oleh manusia – manusia lemah yang menurutku tidak pantas hidup di alam raya..

Tapi itulah yang aku rasa saat ini..

Aku lelah mengeluhkan betapa sepertinya hidup sedang tidak berpihak padaku untuk mengejar semua impian itu bersama kamu. Membantumu mengumpulkan anak tangga untuk sebagai pelengkap rumah kita berdua. Aku merasa sampah, yang tak juga dipercaya Tuhan untuk memiliki nyawa.

Dan semua ini mengimplikasi hati menjadi serpihan yang harus selalu direkatkan dengan simpul kasih sayang. Mengindikasi kejadian yang sama sekali tidak benar dan berada dalam porsi tidak adanya partikel fundamental bagi perahu kita. Bisakah aku bertahan di sana kemudian?

Seperti bernafas dalam rambat labu di pekarangan bersalju, aku sulit tumbuh dalam aksaraku

Aku menatap Dia di setiap malam, dari menundukkan kepala tersulut protes memaki dan akhirnya terlelap dalam tangis perih.

Tak jua kutemukan jawaban, malah Dia tunjukkan segala yang lebih absolut daripada permohonan anak kecil yang tak punya ruang sendiri ini.

Aku menyerah, ternyata seorang yang selalu menggaungkan semangatnya pada dunia jatuh juga. Seorang yang menanam mimpi di kepala kisah hidup manusia akhirnya tak berarah..

Kuakui aku tak bisa se stagnan itu memelihara api yang menjaga hangat diri

Aku harus apa? Tanpa mengurangi rasa hormatku padaNya..

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copyright © 2009-2010 Cappuccino Lover All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.7 theme from BuyNowShop.com.