Tulisan Serius di Pagi Hari
Kawan, saya ingat dulu ketika bapak saya bertanya kenapa jalur pendidikan yang saya pilih di perguruan tinggi adalah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan Jurusan Hubungan Internasional. Saya menjawab pelan, sangat pelan : “ Karena saya percaya Pa, melaluinya saya bisa memajukan bangsa ini. Bangsa yang luar biasa ini “.
Bapak tersenyum lebar. Saya, anaknya yang selalu terlambat upacara bendera kala SMA, yang juga berkontribusi aktif menghancurkan tanah pertiwi dengan tingkat kepedulian lingkungan yang minim ternyata punya impian mungil untuk merengkuh bangsa meskipun dengan tangannya yang kecil. Ya kawan, saya begitu mencintai tanah kelahiran saya ini. Betapapun hampir setengah dari masyarakatnya menghujat betapa bobroknya Negara kita. Tapi saya yakin, dalam hati kecil mereka, syukur itu tetap ada. Tentang Indahnya bagian bumi bernama Indonesia ini. Saya mengimani setiap nafas di dalamnya begitu ingin berkontribusi.
Lalu hari ini saya membaca sebuah berita, tentang keputusan akan kebijakan yang dianggap benar atau salah atas nama rakyat jelata. Tentang kasus yang saya rasa menarik luar biasa bernama “ Bailout Bank Century ”. Saya mengikuti perjalanannya. Dengan background pendidikan empat tahun saya, saya miris mengetahui hal – hal yang “ tidak pada tempatnya “. Bagaimana politik mengusai aspek ekonomi, hukum, sosial dan yang paling parah : Public Assumption. Tiba – tiba semua orang diminta menjadi hakim atas pandangan segelintir manusia yang berpegang pada kebutuhan yang kemudian berwujud kepentingan. Saya tertawa, beginikah kehidupan negara saya? Ya, Politik memang pedang untuk memenangkan pertarungan. Pengawasan bukan lagi untuk kebenaran, tapi kesempatan untuk menjatuhkan. Mempermalukan. Dan berujung pada pembodohan rakyat, dan diri sendiri.
Beberapa elemen berteriak tentang : “ Kembalikan uang kami “. Uang yang mana? Di mana? Milik siapa? Betapapun teriakan ini menggaung di seluruh negeri, pendapatan per bulan kita tetap sama. Korupsi tetap ada, masyarakat miskin masih di luar sana bermalas – malasan memohon belas kasihan. kebijakan tetap di pasung atas nama data rekayasa. Kemudian berbalik menjadi boomerang bagi sang terpercaya. Saya heran kawan, kemudian menangis. Wahai para pemilik kuasa, tidakkah ingin kalian rasakan kemajuan bersama dengan kami? Tidakkah bisa kami menitipkan amanah serta seluruh kekuatan kami untuk negeri? Tidak adakah lagi ruang itu kawan? Ruang kecil bernama “ Karena saya percaya Pak, melaluinya saya bisa memajukan bangsa ini. Bangsa yang luar biasa ini “.


Seperti biasa apa yang menjadi kepentingan politik di negeri ini selalu menomorduakan kepentingan publik..Spertinya lo bs bikin gw mulai ingin menulis kembali..thx
So pathetic ya Ndra,harusnya kita malu menggigiti daging negeri yg membesarkan kita.begitulah..
Hehehe,alhamdulillah klo bs jd inspirasi
Selamat menulis ya!!kasih tau gw jg tulisan2nya